Masjid Agung Ganting, Masjid tertua Di Tanah Padang Minang

Di dinding timur beranda adalah hiasan geometris berukir dalam bentuk panel yang persegi panjang dan persegi. Ada juga hiasan lengkungan yang ditutupi dengan dinding motif cincin dan kaustik.

Pilar-pilar tersebut berfungsi sebagai pilar utama konstruksi atap segi delapan masjid. Hampir sepertiga dari luas tanah wakaf di depan masjid digunakan untuk jalan. Sebagai kompensasi bagi negara, Belanda membantu mengembangkan masjid ini melalui komandan Genie Corps di pantai barat Sumatra (daerah yang sekarang termasuk Sumatra Barat dan Tapanuli).

Masjid Agung Ganting, Masjid tertua Di Tanah Padang Minang, 

Setelah pasukan Sekutu mendarat di Sumatra, banyak pasukan Inggris dari unit tentara Muslim India membelot dan bergabung dengan tentara rakyat setempat.

Baca Juga: Cara Tepat Desain Kubah Masjid

Luas bangunan yang kurang dari seperlima luas tanah itu menyisakan taman besar yang bisa menampung banyak jamaah saat sholat Ied dan Idul Adha. Halaman itu dilapisi dengan besi dan berbatasan langsung di jalan raya ke timur dan utara. Di selatan dan belakang masjid, ada beberapa makam, termasuk makam Angku Sheikh Haji Uma, satu dari tiga orang yang memprakarsai pembangunan masjid ini. Lantai diganti dengan semen setelah mengganti semen yang diperoleh dari luar negeri (Jerman).

Pada tahun 1810, Masjid Agung Ganting dipersiapkan dalam keadaan darurat dengan keadaan bangunan. Lantainya hanya terbuat dari batu plester dan diplester dengan tanah liat karena belum ada semen yang didapat.

Sementara itu, di bawah kepemimpinan Kapten Lo Chian Ko, etnis Tionghoa membantu memobilisasi pengrajin Tiongkok untuk mengerjakan kubah yang dibuat di alun-alun kedelapan seperti atap kuil. Demikian juga, di mihrab tempat imam membacakan doa dan khotbah, ukiran menyerupai ukiran Cina. Di tengah masjid juga dibangun sebuah muzawir berukuran 4 × 4 m² dalam bentuk platform kayu dan diukir dengan Cina. Muzawir berfungsi sebagai tempat untuk melafalkan panggilan imam untuk berdoa dan bersuara sehingga jemaat dapat mengikuti gerakan imam.

Berdiri di atas lahan seluas 102 mx 95,6 m, Masjid Ganting memiliki taman yang cukup besar di sebelah timur yang dapat menampung sejumlah besar jamaah selama shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Halaman depan ditutupi dengan besi, sedangkan bagian selatan dan belakang dikelilingi oleh dinding yang berdekatan dengan kuburan dan rumah.

Bangunan masjid persegi panjang memiliki ukuran 42 x 39 m dan dibagi menjadi teras depan (12x39m), teras kanan (30 × 4,5m), teras kiri (30 × 4,5m) dan ruang utama (30x30m). Luas pembangunannya kurang dari seperlima luas daratan, menyisakan taman besar yang bisa menampung banyak jamaah pada saat sholat Idul Fitri dan Idul Adha. Beranda persegi panjang memiliki 6 pintu dari timur dan 2 pintu masuk dari utara dan selatan, masing-masing dengan pintu besi. Antara pintu masuk dari timur adalah dekorasi tiang pseudo ganda, kecuali di tengah ada mimbar yang menjorok ke depan dan juga memiliki pintu dari jeruji.

Ruangan itu berisi tujuh pilar beton silinder ganda dengan diameter 45 cm. Tiang-tiang tersebut berada pada platform beton dengan lebar 113 cm, tinggi 70 cm dan ketebalan 67 cm. Selain itu, ada juga dua pilar persegi panjang di sisi utara dan selatan, dekat dengan ruang segi delapan dengan satu pintu dari timur dan satu jendela. Sehingga Tiga Tali Sapilin lengkap, yang berarti ada pedagang, pemimpin dan ulama.

Masjid 30×30 meter ini memang unik dalam arsitekturnya karena memadukan desain Timur Tengah, Cina, dan Eropa. Masjid ini memiliki empat tingkat, tiga dan empat lantai, dan delapan pintu dan delapan jendela. Masjid dengan luas konstruksi 30 x 30 meter ini didukung oleh 25 tiang kayu pilihan Anda, masing-masing dengan nama nabi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *