Masjid Agung Al-Mashun, Warisan Kesultanan Deli

Meski berusia lebih dari seabad, bangunan masjid tetap terlihat kokoh. Untuk membangun Masjid Al Mashun di Medan, banyak dekorasi yang diimpor dari luar negeri, termasuk marmer Italia, kaca patri dari Cina, dan lampu gantung Prancis.

Hal ini juga makin memperkuat akan nuansa akulturasi budaya yang ada di ruangan utama masjid. Van Erp kemudian dipanggil ke tanah Jawa oleh pemerintah Hindia Belanda untuk berpartisipasi dalam proses pemulihan situs bersejarah lainnya yakni candi Borobudur di Jawa Tengah.

Masjid Agung Al-Mashun, Warisan Kesultanan Deli

Konon, Masjid Agung Medan terhubung langsung ke Istana Maimun melalui terowongan yang mengarah ke kamar sultan di dalam istana.

Karena Sultan menyuruh anggotanya untuk mencari arsitektur yang berkualitas dan akhirnya melakukan perjalanan ke sejumlah negara, seperti Eropa, Timur Tengah dan Asia. Bangunannya cukup besar, Masjid Al Mahsun bisa dilihat dari kejauhan. Hanya memasuki area masjid dengan memasuki gerbang yang menghadap Jalan Sisingamangaraja, pintu masuk utama.

Ada beberapa rekomendasi hotel murah di dekat masjid agung ini, termasuk Hotel Madaniah Syariah, JW Marriot Medan, dan Garuda Plaza Hotel. Anda dapat memilih satu sebagai tempat menginap yang nyaman.

Namun, ada juga pihak lain yang telah membantu mewujudkan ikon kerajaan ini. Di antara mereka adalah Tjong A Fie, seorang Cina yang dikenal luas sebagai pedagang Deli yang sukses. Sebuah sumber mengatakan perusahaan perkebunan itu menyumbang sekitar sepertiga dari total biaya yang diperlukan untuk membangun Masjid Agung al-Mashun.

Gang-gang ini memiliki barisan jendela tanpa daun dalam bentuk lengkungan pada balok. Baik beranda maupun jendela-jendela melengkung mengingatkan akan desain bangunan kerajaan Islam di Spanyol pada Abad Pertengahan. Sementara Kubah Masjid mengikuti model Turki, dengan bentuk oktagonal patah. Kubah utama dikelilingi oleh empat kubah lain di atas setiap teras, dengan ukuran lebih kecil.

Masjid Agung Medan, yang dikenal sebagai Masjid Agung Al-Mashun, adalah salah satu bangunan tertua di kota Medan. Apalagi masjid ini selalu dikenal sebagai landmark utama ibukota provinsi Sumatera Utara. Hingga saat ini, masjid masih digunakan setiap hari untuk beribadah dan berdoa bagi umat Islam. Masjid Al-Mashun atau juga disebut Masjid Medan adalah saksi sejarah penyebaran Islam di ibukota provinsi Sumatera Utara.

Masjid Raya al-Mashun didominasi oleh warna putih, di sebelah hijau di sekitar pintu dan hitam di kubah. Pilar di setiap sisi bangunan utama mengadopsi pola khas Cordoba, Spanyol, terutama karena bagian atas lingkaran memiliki bentuk setengah lingkaran dan bukan diameter pilar besar. Pengunjung yang ingin memasuki ruang sholat harus melalui tangga penghubung karena tempatnya lebih tinggi dari beranda.

KOMPAS.com – Masjid Al Mashun atau sering disebut Masjid Agung Medan terletak di Jl Sisingamanganraja, 200 meter tidak jauh dari Istana Maimun. Masjid Agung Al Mashun juga dikenal memiliki Alquran kuno yang dapat dilihat di pintu masuk jamaah pria.

Banyak turis yang ingin berziarah ke makam keturunan Kesultanan Deli yang terletak di kompleks masjid. Pengurus Masjid Al-Mashun Medan Mohammed Hamdan mengatakan banyak masjid di daerahnya dibangun oleh Sultan Deli. Namun, Masjid Agung Al-Mashun adalah arsitektur yang paling indah dan indah. Sebagian besar materi di Masjid Agung Medan, Al-Mashun, masih asli.

Atau pilih salah satu hotel terbaik di dekat Masjid Agung Medan di atas. Skyscanner hotel di Singapura adalah cara cepat, gratis, dan mudah untuk menginap di dekat Masjid Medan Raya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *